HUMAN COMPUTER INTERACTION

GUI vs NUI   

Membeli suatu produk di masa kini tak hanya untuk mendapatkan fungsinya
saja. Tetapi ada berbagai parameter lain seperti kemudahan pemakaian,
keawetan, segi artistik, fungsi tambahan, maupun kemasan turut mempengaruhi
apakah suatu produk dapat laku di beli orang.Kalau Nokia dapat merajai pasar ponsel di Indonesia, sudah barang tentu
salah satu faktornya adalah karena asas kemudahan pakainya. Laris manisnya
model 5110 ? ponsel sejuta umat ? juga sedikitnya karena kemudahan
penggunaannya dengan tombol “Navi Key”. Lewat serangkaian iklannya Nokia
selalu mengidentikkan dirinya dengan “The Human Technology”, sebagai ponsel
yang sangat peduli dengan kemudahan akses serta kebutuhan user. Sangat
berbeda dengan saat telepon ditemukan pertama kalinya, di mana segi
fungsionalitaslah menjadi unsur penting, sehingga perangkat handset yang
ukurannya besar serta kurang artistik tidak mempengaruhi minat pengguna.

Akhir Februari lalu saya berkesempatan memenuhi undangan Microsoft untuk
menjadi salah seorang juri dari kompetisi .NET tingkat Asia Pasifik yang
diikuti 12 tim dari 11 negara. Indonesia mengirimkan tim pemenang kompetisi
nasional yang kebetulan adalah mahasiswa skripsi bimbingan saya. Di event
penutupan kompetisi inilah Bill Gates datang ke Beijing untuk menceritakan
current updates dari riset Microsoft di depan para finalis serta 8000
mahasiswa Cina.

Bagi Anda yang saat ini menggunakan PC pasti sudah tak asing dengan sistem
operasi Windows. Bila dicermati, terjadi lompatan yang sangat besar di
penghujung dekade 1980an sejak ditemukannya Windows setelah sebelumnya para
pengguna PC sudah mantap dengan adanya DOS. Perubahan penting dari DOS ke
Windows adalah antara lain yang kita sebut sebagai GUI atau Graphical User
Interface, artinya, bila sebelumnya pemakai hanya bisa berhubungan dengan
mesin dengan mengetik melalui keyboard saja, maka mulailah dipopulerkan
penggunaan Mouse sebagai piranti interaksi yang powerful, serta tampilan
yang lebih artistik dan “manusiawi” karena berbasiskan grafis yang
full-colour, tidak hanya teks saja serta mendukung multimedia. Dunia
menjadi lebih indah bagi pengguna komputer. Sejak itulah konsep komputer
pribadi mulai berkembang pesat.

Setelah kira-kira 20 tahun berlalu, kini Microsoft mulai kembali
menciptakan perubahan besar di bidang interaksi manusia dan mesin/komputer.
Inilah yang disebut Bill Gates sebagai Natural User Interface (NUI). NUI
akan segera masuk ke pasar diperkirakan akhir 2003 ini. Bentuk NUI adalah
penggunaan suara sebagai satu interface utama dalam berinteraksi pada semua
device yang menggunakan Windows. PC, PDA, Tablet PC, hingga SmartPhone
semuanya akan menggunakan NUI di samping GUI yang telah sangat maju.

Dengan matangnya piranti lunak TTS (text to speech) serta ASR (Automatic
Speech Recogniser), maka speech sudah mulai dapat digunakan sebagai media.
Dengan TTS, kita bisa “mendengarkan” e-mail yang masuk, artikel, agenda
kerja, dokumen, dan sebagainya saat kita sedang berada di jalan misalnya
lewat mobile phone. Sedangkan dengan ASR, kita bisa memerintahkan komputer
untuk membaca, menulis, menjalankan aplikasi dan sebagainya melalui suara
kita. Dengan demikian, peran keyboard dan mouse mulai dapat dikurangi. ASR
juga telah dikembangkan melalui aplikasi Speaker Verification untuk
memungkinkan suara manusia sebagai password secara biometric. Sudah sejak
lama suara manusia, retina mata, sidik bibir, dianggap sangat unik dan
mulai dikembangkan sebagai salah satu alternatif pengganti sidik jari.
Inilah yang disebut dengan “Natural”, interaksi dengan komputer menjadi
lebih manusiawi dan dapat diajak “bercakap-cakap” seperti manusia.

Apa dampaknya bagi kita? Sudah pasti digital divide akan semakin berkurang.
Orang semakin mudah berinteraksi dengan komputer. Orang yang buta, tuli,
serta buta huruf akan mempunyai kesempatan yang sama dengan orang normal
untuk berinteraksi dengan komputer. Bahkan bagi orang buta, akan semakin
banyak informasi yang dapat diserap karena adanya pembaca dokumen otomatis.

Riset Microsoft tentu dilatarbelakangi oleh banyak hal. Salah satunya yang
terpentiing adalah dari kenyataan bahwa berbicara lebih cepat daripada
mengetik. Sejak PC ditemukan, teknologi baru dapat menghasilkan solusi
mengetik yang lebih cepat daripada menulis manual. Sedangkan kini, dengan
majunya riset di bidang Artificial Intelligence (Speech
Analysis/Recognition dan Speech Synthesis), didukung sepenuhnya dengan
semakin cepatnya prosesor komputer, membuat speech menjadi solusi baru
dalam berinteraksi.

Lalu kemudian bila Speech sudah bisa menjadi andalan, interface apa yang
lebih cepat dari suara sebagai media interaksi? Tentunya pikiran. Di masa
mendatang, mungkin komputer malah sudah bisa secara otomatis “memutuskan”
untuk melakukan sesuatu tanpa harus disuruh, dengan memperhatikan pola
berfikir dan pengambilan keputusan kita sebelumnya. Kita tunggu lagi
kemajuan AI di bidang personal knowledge management serta personal expert
system. Yang terakhir ini akan me-manage serta merekam seluruh reaksi kita
terhadap suatu aksi. Kemudian akan menghasilkan secara reaksi otomatis
berdasarkan pola-pola sebelumnya.

Computer Supported Collaborative Research (CSCR)

CSCR merupakan bidang baru terkait riset masyarakat HCI. CSCR merupakan kelanjutan dari pendahulunya, yaitu Computer Supported Collaborative Work (CSCW) dan Computer Supported Collaborative Learning (CSCL). Keduanya ini merupakan subyek riset HCI hampir sepuluh tahun yang lalu.

Gambar berikut menampilkan kedudukan dari ketiganya (merupakan bagian dari HCI)

Gambar CSCR 1

Perbedaan utama antara CSCW dan CSCL yaitu bahwa CSCW dikarakteristikan oleh “kebutuhan akan ruang kerja (workingspace)” sedangkan CSCL membutuhkan ruang kerja dan ruang belajar (learningspace)

Workingspace adalah domain tempat aktivitas-aktivitas berikut berlangsung: communication space, scheduling space, sharing space, dan product space.

Learning space adalah domain yang memuat seluruh aspek workingspace ditambah dengan aktivitas berikut: reflection space, social space, assessment space, tutor space, dan administration space

Perbedaan utama antara CSCR dan CSCL adalah bahwa suatu rekord penuh dari seluruh interaksi antar partisipan merupakan tool penting dan dibutuhkan untuk mengevaluasi kontribusi setiap anggota dalam suatu collaboratiob group yang nanti dapat menentukan “suatu share modal yang adil (a fair capital share) apabila proyek riset berjalan dengan sukses.is successful.

CSCR membutuhkan Workingspace, Learningspace, dan aktivitas-aktivitas berikut: knowledge space, publication space, privacy space, publication space, negotiation space.

compare

(Sumber VH-Hoare)

Published August 9th, 2007

Computer Supported Collaborative Research (CSCR)

CSCR merupakan bidang baru terkait riset masyarakat HCI. CSCR merupakan kelanjutan dari pendahulunya, yaitu Computer Supported Collaborative Work (CSCW) dan Computer Supported Collaborative Learning (CSCL). Keduanya ini merupakan subyek riset HCI hampir sepuluh tahun yang lalu.

Gambar berikut menampilkan kedudukan dari ketiganya (merupakan bagian dari HCI)

Gambar CSCR 1

Perbedaan utama antara CSCW dan CSCL yaitu bahwa CSCW dikarakteristikan oleh “kebutuhan akan ruang kerja (workingspace)” sedangkan CSCL membutuhkan ruang kerja dan ruang belajar (learningspace)

Workingspace adalah domain tempat aktivitas-aktivitas berikut berlangsung: communication space, scheduling space, sharing space, dan product space.

Learning space adalah domain yang memuat seluruh aspek workingspace ditambah dengan aktivitas berikut: reflection space, social space, assessment space, tutor space, dan administration space

Perbedaan utama antara CSCR dan CSCL adalah bahwa suatu rekord penuh dari seluruh interaksi antar partisipan merupakan tool penting dan dibutuhkan untuk mengevaluasi kontribusi setiap anggota dalam suatu collaboratiob group yang nanti dapat menentukan “suatu share modal yang adil (a fair capital share) apabila proyek riset berjalan dengan sukses.is successful.

CSCR membutuhkan Workingspace, Learningspace, dan aktivitas-aktivitas berikut: knowledge space, publication space, privacy space, publication space, negotiation space.

Ngobrol jarak jauh dengan komputer

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat saat ini memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan berbagai cara dan berbagai alat. Misalnya saja komputer. Komputer dapat digunakan sebagai sarana komunikasi jarak jauh, bahkan bisa antar negara dan antar benua. Salah satu caranya adalah dengan “Chatting”. Chatting dapat dilakukan apabila komputer sudah terhubung dengan internet dan pada komputer tersebut sudah terinstal software/program untuk chatting. Singkatnya, definisi chatting adalah suatu fasilitas dalam Internet untuk berkomunikasi sesama pemakai Internet yang sedang on-line. Komunikasi dapat berupa teks atau suara (chatting voice). Nah, kali ini kita akan membahas software program apa saja sih yang digunakan untuk chatting… Ayo siapa yang tahu?

Salah satu program yang digemari untuk chatting adalah dengan “IRC” . Selain itu ada juga MSN Messenger, Yahoo Messenger, ICQ (I Seek you), American On-Line (AOL) dan bahkan saat ini beberapa website memberikan fasilitas langsung untuk para pengunjung yang telah mendaftar sebelumnya untuk chatting. Mau tahu lebih lengkap ngobrol pakai komputer? Silahkan baca terus kelanjutan artikel ini….
Umumnya orang akan memilih program chatting yang paling banyak digemari dan mudah menjalankannya. Sekarang, mari kita lihat cara menjalankan beberapa program untuk chatting dan kelebihannya.
mIRC

Jalankan program mIRC
Setting nickname kamu, email, dan lain-lainnya. Untuk nickname akan lebih baik bila permanen dan telah di register agar tidak diserobot orang atau dikenali sebagai guest oleh server.
Pilih server yang diinginkan. Bisa DalNet untuk Internasional dan lokal sedangkan khusus lokal bisa telkom, wasantara, indonet atau lainnya.

Human Computer Interaction – HCI

Oktober 2nd, 2007 · No Comments

Interaksi Manusia – Komputer

Oleh: Ir. Emir M. Husni, M.Sc., Ph.D. Komputer dan alat – alat yang terkait dengannya harus didesain dengan mempertimbangkan bahwa manusia, yang memiliki perintah spesifik dalam pikirannya, ingin menggunakan komputer dan alat – alat terkait sedemikian rupa sehingga dapat sepenuhnya membantu pekerjaan keseharian mereka. Untuk dapat melakukan hal tersebut, orang – orang yang mendesain sistem ini harus mengetahui bagaimana caranya memikirkan perintah – perintah yang akan diberikan oleh pengguna nantinya, serta bagaimana caranya menterjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam sistem yang dapat diproses.  Komputer dan alat – alat yang terkait dengannya harus didesain agar:

  1. Sesuai dengan perintah – perintah yang diberikan
  2. Mudah digunakan
  3. Memberikan umpan balik bagi performansi
  4. Menampilkan data dalam format yang sesuai dengan penggunanya
  5. Sesuai dengan prinsip – prinsip ergonomi dalam perangkat lunak

 Apa yang dimaksud dengan HCI? HCI melibatkan desain, implementasi, dan evaluasi dari sistem interaktif dalam konteks perintah dan pekerjaan pengguna (user)§  Dengan pengguna (user), kita dapat mengartikan pengguna individual, sekelompok pengguna yang bekerja bersama, atau pengguna yang berurutan dalam sebuah organisasi yang masing – masing berhadapan dengan suatu bagian dari pekerjaan atau proses.§  Dengan komputer, kita mendefinisikan setiap teknologi, mulai dari desktop komputer secara umum sampai sistem dalam skala besar dari komputer, sistem pengontrol proses atau sistem yang terbangun di dalamnya. §  Dengan interaksi, kita mendefinisikan setiap komunikasi antara pengguna (user) dan komputer, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Siapa yang terlibat dalam HCI

  • Ergonomics for the user’s physical capabilities

  • Computer science & engineering to be able to build the necessary technology

  • Business to be able to market it

HCI dapat dipastikan merupakan sebuah subyek yang multidisiplin. Desainer ideal dari sebuah sistem interaktif seharusnya memiliki keahlian dalam berbagai topik: ilmu pengetahuan psikologi dan kognitif,

sosiologi, ilmu dan teknologi komputer, dan lain – lain. Kita ingin mendukung sudutpandang multidisiplin dari HCI, namun kita juga memiliki pendirian sebagai seorang ilmuwan komputer. Tujuannya adalah agar dapat menjadi multidisiplin namun tetap praktis. Kita fokuskan khusus pada ilmu komputer, psikologi, dan keilmuan kognitif sebagai pembahasan utama, dan aplikasi keilmuan – keilmuan tersebut pada desain. Disiplin ilmu yang lain akan dibahas hanya untuk memberikan masukan yang relevan. Teori dan HCI Tidak ada teori secara umum dan khusus mengenai HCI yang dapat disajikan di sini. Ada tiga isu utama yang kita perhatikan: manusia, komputer, dan pekerjaan yang dilaksanakan. Begitu juga dengan HCI, interface yang bagus dan cantik secara artistik akan sangat menyenangkan dan dapat merampungkan pekerjaan yang dibutuhkan, sebuah perkawinan antara seni dan ilmu pengetahuan yang menghasilkan sebuah kesuksesan secara menyeluruh. Fokus utama dari desain:

  1. Perbaikan/penentuan yang cepat
  2. Berpikir seperti seorang pengguna (user)
  3. Berani mencoba    
  4. Melibatkan pengguna (user)
  5. Diulang

CORBA(Common Object Request Broker Architecture)

Sistem Terdistribusi

Mari kita bayangkan masa depan, saat hampir semua aktivitas manusia memanfaatkan komputer sebagai sarana utamanya. Berbagai basis data berskala besar telah disimpan dalam format elektronis. Demikian pula berbagai aplikasi yang mendasarkan pada basis data telah dikomputerisasi dalam sebuah lingkungan jaringan komputer yang meliputi berbagai instansi dan perusahaan. Pada saat itu dimensi ruang benar-benar telah berkontraksi sedemikian rupa sehingga dunia maya seakan-akan telah menjadi dunia nyata dan berbagai aspek kehidupan manusia terhubung melalui suatu jaring-jaring yang amat kompleks.

Ilustrasi berikut ini bisa menggambarkannya. Misalnya si A sakit dan pergi ke dokter langganannya. Jika hasil diagnosa mengharuskan si A harus masuk ke rumah sakit, maka pemilihan RS dan pemesanan tempat dapat dilakukan pada saat itu juga melalui komputer di tempat praktek dokter. Selanjutnya komputer di RS dapat mengontak komputer perusahaan asuransi kesehatan untuk pengurusan pembayaran biayanya. Jika si A memerlukan obat atau peralatan khusus, maka komputer si dokter dapat memberitahu di apotik mana obat atau peralatan tersebut tersedia. Cerita ini dapat diperpanjang, tapi intinya adalah bahwa satu aksi dapat memicu berbagai aktivitas lain yang saling berhubungan.

Ilustrasi di atas nampaknya tidak lagi jauh dari kenyataan yang ada saat ini. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa teknologi untuk menuju ke sana saat ini sudah dimiliki manusia. Selain teknologi mikroelektronik dan telekomunikasi, maka teknologi lain yang berperanan penting adalah teknologi sistem komputer terdistribusi (distributed computer systems).

Sistem komputer terdistribusi adalah sebuah sistem yang memungkinkan aplikasi komputer beroperasi secara terintegrasi pada lebih dari satu lingkungan yang terpisah secara fisis. Sistem informasi kesehatan yang diilustrasikan di atas menunjukkan komponen-komponen aplikasi yang terdistribusi (di tempat praktek dokter, di rumah sakit, di apotik, dan di perusahaan asuransi kesehatan). Ciri khas sistem komputer terdistribusi adalah heterogenitas dalam berbagai hal: perangkat keras, sistem operasi, dan bahasa pemrograman. Adalah tidak mungkin untuk mengembangkan sistem terdistribusi yang homogen secara paksaan, karena secara alamiah sistem komputer terdistribusi tumbuh dari lingkungan yang heterogen. Kata kunci dalam menjembatani perbedaan-perbedaan yang muncul adalah interoperabilitas (interoperability).

CORBA
Interoperabilitas adalah kemampuan saling bekerjasama antar sistem komputer. Sebenarnya interoperabilitas bukanlah barang baru, karena protokol komunikasi datapun (TCP/IP misalnya) pada dasarnya diciptakan untuk mewujudkan interoperabilitas. Yang belum banyak dikenal adalah interoperabilitas pada level perangkat lunak aplikasi.

Dalam konteks sistem komputer terdistribusi, meskipun komponen-komponen aplikasi dibuat dengan bahasa pemrograman yang berbeda, menggunakan development tools yang berbeda, dan beroperasi di lingkungan yang beragam, mereka tetap harus dapat saling bekerjasama.

Interoperabilitas perangkat lunak menuntut homogenitas pada suatu level tertentu. Untuk itu diperlukan semacam ’standarisasi’. Berawal dari keperluan ini lahirlah CORBA (Common Object Request Broker Architecture). CORBA adalah hasil ‘kesepakatan’ antara sejumlah vendor dan pengembang perangkat lunak terkenal seperti IBM, Hewlett-Packard, dan DEC, yang tergabung dalam sebuah konsorsium bernama OMG (Object Management Group).

CORBA adalah sebuah arsitektur software yang berbasis pada teknologi berorientasi obyek atau Object Oriented (OO) dengan paradigma client-server. Dalam terminologi OO, sebuah obyek berkomunikasi dengan obyek lain dengan cara pengiriman pesan (message passing). Konteks komunikasi ini kemudian dipetakan ke dalam model client-server: satu obyek berperan sebagai client (si pengirim pesan) dan yang lain bertindak sebagai server (yang menerima pesan dan memroses pesan yang bersangkutan). Sebagai contoh, dalam ilustrasi di awal tulisan ini, jika si pasien memerlukan obat tertentu, maka obyek aplikasi di tempat praktek dokter berlaku sebagai client dan mengirim pesan ke obyek aplikasi di apotik guna mengetahui apakah obat yang diperlukan tersedia di sana.

Keunikan dari CORBA adalah kemampuannya dalam menangani heterogenitas antara client dan server (dalam terminologi CORBA, obyek server dinamakan implementasi obyek (object implementation). Keduanya dapat saja diimplementasikan dalam hardware, sistem operasi, bahasa pemrograman, dan di lokasi yang berbeda, tetapi tetap bisa saling berkomunikasi. Kuncinya ada pada sebuah lapisan software yang disebut dengan ORB(Object Request Broker)

Tidak seperti pada lazimnya bahasa OO (C++ atau Java), proses pengiriman pesan dari client ke implementasi obyek tidak dilakukan secara langsung. Pertama, stub dan skeleton “mengisolasi” client dan implementasi obyek dari tugas-tugas level rendah seperti proses marshalling dan unmarshalling data. Selanjutnya ORB berfungsi sebagai “pialang” yang menjembatani heterogenitas antara kedua obyek. ORB menangani perbedaan platform, pelacakan lokasi obyek, dan proses transfer pesan sedemikian rupa sehingga transparan terhadap kedua obyek. Dengan demikian pemrograman client dan implementasi obyek bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada aspek fungsionalitas keduanya.

Mekanisme yang ditunjukkan pada Gambar 1 merupakan dasar operasi sistem berbasis CORBA. Sebagai contoh, dalam kasus si A di atas, program di tempat praktek dokter bertindak sebagai client bagi program di rumah sakit. Bila si A perlu dirawat di rumah sakit, maka program sang dokter akan mengirimkan pesan ke program di rumah sakit melalui ORB. Menariknya, kedua program tersebut dapat dikembangkan tanpa perlu banyak ikatan antara keduanya, misalnya menggunakan bahasa pemrograman apa, sistem operasi apa, dan sebagainya. Cukup berangkat dari sebuah ‘kesepakatan’ yang dituangkan dalam sebuah interface (lihat bagian tentang Pemrograman Berbasis CORBA), maka kedua program tersebut bisa dikembangkan secara independen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s